Perjalanan jauh pertama kami di Bali adalah menuju Kintamani, sebuah daerah yang terletak di timur laut Bali. Sekitar 80km dari Bandara Ngurah Rai, Kuta. Ya, sekitar 2 jam lebih perjalanan. Perjalanan yang kami tempuh perdana bersama anggota arisan BPJS.

Saat menentukan perjalanan kali ini, sebenarnya kami tidak ada tujuan. Jadi hanya ingin keliling Bali saja. sekedar menyusuri jalan.

Menuju Kintamani, sebenarnya ada 3 rute yang biasa dilalui: lewat Ubud/ Tampaksiring, lewat Bangli, atau lewat Pura Besakih. Karena alasan pengen jalan-jalan, walaupun sebenarnya tidak tahu jalan juga, kami memutuskan untuk pergi dan pulang melalui jalur yang berbeda.

Pada saat pergi, kami menyusuri jalan sepanjang wilayah Sanur sambil melihat pemandangan laut di timur Bali. lalu ke arah utara melalui Bangli. Setelah setengah perjalanan kami lalui, jalanan mulai menyempit, masuk ke area yang jarang pemukiman serta kiri dan kanan jalan seperti hutan. Sempat beberapa kali takut nyasar, karena makin lama jalanan makin sepi. Di tambah lagi hujan mulai turun sehingga jarak pandang kami jadi terbatas. Bayangkan, terjebak di tengah hutan, jangankan SPBU, rumah penduduk saja jarang kelihatan. Bahkan penduduk pun sangat jarang kami temui. Hujan turun tentu membuat kami jadi main deg-deg an. Belum lagi GPS yang biasa kami andalkan, kini tidak bersahabat karena tidak bisa menerima sinyal dengan baik.

Tapi untung saja, bermodalkan niat dan tekad serta diiringi doa, kami pun sampai ke daerah Kintamani.

DSC_0235
Gunung Batur & Danau Batur, Kintamani, Bangli – BALI

Begitu sampai di wilayah Kintamani, memasuki areal wisata Gunung & Danau Batur, ada spot khusus yang disiapkan untuk bisa mengambil foto pemandangan Kaldera Batur ini. Tapi sekedar info, ketika anda berhenti di sini, anda akan dimintai uang parkir sebesar 15 ribu rupiah dan biaya Rp 10.000,- per orang. Luar biasa mahal kan.. Jadi sepertinya, kalau anda keberatan dengan biaya tersebut, langsung saja jalan melewati kawasan tersebut. Masih banyak spot yang bagus untuk menikmati pemandangan dan mengambil foto yang baik.

Sepanjang jalan, kami hanya melihat-lihat dari dalam mobil yang berjalan pelan-pelan. Jadi, maaf kalau tidak ada foto-foto yang bisa kami share. Kebetulan hari sudah siang, kami mau singgah cari tempat makan. Inilah tempat makan yang kami masuki.

IMG_20161009_144019

Restoran Panca Yoga ini berada di area Penelokan. Kami memang sengaja memilih area ini, karena di sini memang tempat yang sangat bagus untuk mendapatkan pemandangan gunung Batur.

Ada beberapa catatan untuk kalian yang ingin berkunjung ke sini:

  1. di Penelokan ini, kamu bisa mendapatkan pemandangan yang bagus. So, jangan lupa bawa kamera. atau minimal smartphone untuk selfie.
  2. di sini, kamu akan disambut oleh banyak pedagang sovenir yang sangat sangat agresif. Jika kamu memang tidak ada niatan membeli, lebih baik jangan tanya-tanya, apalagi sampai pura-pura nawar. Alhasil kamu akan dikejar-kejar sampai kamu terpaksa beli entah karena kesal, terganggu, kasian atau gengsi.
  3. terutama di musim hujan, udara akan dingin, lembab, dan basah. Jadi jangan lupa untuk bawa Jaket, lebih baik yang berbahan anti air

Nah, di Restoran Panca Yoga, mereka menawarkan sajian buffet All You Can Eat. Harganya kira2 150rb utk wisatawan asing, dan 100rb untuk turis lokal. Kenapa saya pakai kira2, ya, karena kalau kamu pintar atau beruntung, harganya bisa saja kamu tawar. 🙂 Ayo, mana emak2 yang jago nawar… hehehe… Kalau kamu nggak lagi kepingin makan, kamu bisa juga sekedar minum kopi atau teh, sambil menikmati pemandangan.

Menu nya cukup bervariasi, ada roti, salad, soup, nasi dengan sayur dan lauknya, sate, gorengan, buah, kue, kerupuk, serta kopi dan teh.

Untuk kualitas rasa, jujur, biasa saja. Tapi tempatnya cukup memuaskan. Layout resto terdiri dari dua bagian, indoor dan outdoor. Kami memilih duduk di area Outdoor, karena dari tempat ini, kita bisa melihat pemandangan gunung batur dengan sangat jelas.

DSC_0244
Gunung Batur, Kintamani – Bali

Saat itu, cuaca memang lagi berkabut, dan suhu udara sangat dingin. Menggunakan jaket saja masih terasa dingin. Luar biasanya, segelas kopi panas yang kami ambil, tiba2 menjadi dingin dalam hitungan di bawah 1 menit. Tapi kami justru malah menikmati udara dingin tersebut. Padahal, banyak tamu lain yang awalnya duduk di luar karena ingin melihat pemandangan, tapi begitu anginnya bertiup, langsung pindah ke bagian indoor. hahaha… We Are Last Man Standing…

Selesai makan, selepas menikmati pemandangan sambil minum kopi dan teh hangat dan tentunya ngobrol-ngobrol asik dengan para gerombolan BPJS, kami pun bersiap pulang.

Kami pulang melewati lintasan Tampaksiring, Ubud. Sepanjang perjalanan, ada banyak tempat yang kami masukkan ke dalam Bucket List kami berikutnya. Memang sepertinya wilayah Ubud menyimpan banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sebut saja, Pura Tirta Empul, Monkey Forest, Coffee Plantation, dll.

Masih banyak tempat yang wajib kami kunjungi di kesempatan berikutnya.

So, nantikan cerita perjalanan kami berikutnya ya.

 

NB: Di perjalanan pulang, melewati sebuah pemandangan sawah berundak alias Subak, kami singgah di sebuah tempat bernama Ceking Terrace. Sedikit ambil foto, jalan2 sebentar, sambil memutuskan, ini salah satu tempat lagi yang mesti kami kunjungi ketika kami kembali ke Ubud.

 

 

Advertisements