Yeayy..

Memulai petualangan pindah ke Bali.

Kali ini, kami mau berbagi cerita saat kami melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bali melalui Jalur Darat, membawa mobil MPV pribadi.

Baca cerita kami sebelumnya di sini

Ours Very First Post: Perjalanan ke Bali (Part 1)

Pukul 9 pagi, kami berangkat dari Jakarta. Pos perhentian hari pertama adalah sampai di Semarang. (sekalian mengunjungi kakaknya Ellys yang memang tinggal di sana).

Dari Jakarta, kami masuk ke dalam Tol Lingkar Luar, menyambung ke Tol Cipali. Sayang pada saat kami melewati tol Cipali, ada banyak pekerjaan perbaikan jalan tol sehingga jalan tol agak tersendat karena hanya tersisa satu jalur saja. Kami sempat berhenti sejenak di Rest Area terakhir sebelum keluaran tol Kanci untuk istirahat sebentar sekedar meluruskan badan dan menyantap bekal makan siang yang kami bawa; Nasi kotak berisikan sambal goreng ati, perkedel, telur dadar, tempe orek, kerupuk dan tentunya Nasi Putih.

Setengah jam lewat sudah, sekitar pukul satu siang kami kembali melanjutkan perjalanan setelah sedikit tanya-tanya ke orang-orang di rest area untuk mengetahui arah menuju Pemalang/ Brebes.

Setelah keluar dari Tol Kanci-Pejagan, lagi-lagi perjalanan kembali tersendat karena ada perbaikan jalan. sekitar 1 jam-an tersendat, akhirnya jalanan kembali lancar hingga memasuki kota brebes. Melihat perjalanan yang sudah terlambat, rencana kami untuk singgah di beberapa tempat makan akhirnya harus kami urungkan karena kami punya target untuk sampai ke kota Semarang sebelum terlalu malam. Kami pikir nanti saja setelah sampai Semarang barulah kami pergi mencari makan.

Perjalanan pun kami lanjutkan sambil mendengarkan musik di dalam mobil dan menikmati pemandangan sepanjang jalan. Sayang seribu sayang, kami lagi-lagi harus menghadapi jalanan yang tersendat beberapa kilometer. Saat itu kalau tidak salah, kami sudah memasuki kota pekalongan. Setelah bersabar menyusuri kemacetan, akhirnya jalanan kembali lancar setelah melewati satu titik yang merupakan penyebab kemacetan. Ya, saat itu, di sana diadakan lomba 17-an, dan penontonnya luar biasa banyak. Manusia dan Motor berkerumun di sepanjang jalan. mungkin karena begitu antusiasnya warga sana berpartisipasi namun luas tempatnya tidak cukup untuk menampung. Akhirnya ruas jalan pun dikorbankan dan hanya menyisakan satu jalur sempit.

Singkat cerita akhirnya kami sampai juga di Semarang sekitar pukul 20.00. Sungguh perjalanan yang panjang hanya untuk perjalanan dari Jakarta menuju Semarang. Akhirnya kami langsung menuju tempat kami menginap, yaitu di rumah kakaknya Ellys. Karena sudah sampai di sana kami pun langsung disuguhkan berbagai masakan rumah. Makan malam yang nikmat. Tapi, jadi batal lagi deh rencana wisata kuliner kami.

 

Perjalanan Hari Kedua

Target: Semarang – Surabaya

Sekitar pukul 9, kami jalan dari Semarang. Agak siang memang, maklum baru habis begadang karena diajak ngobrol hingga pagi oleh kakaknya Ellys. Ya, karena memang jarang-jarang kami bisa ketemu.

Perjalanan menuju Surabaya harus terhenti sesaat, karena perut terasa lapar. hahaha..

Saat itu kami sudah memasuki Rembang, dengan sigap, sebuah smartphone dengan bantuan si”Mbah Gugel” mengarahkan kami ke sebuah Rumah Makan di Jl. Diponegoro. Namanya adalah Rumah Makan Lestari. kalau dari penampakan luarnya seh biasa saja. Tapi setelah masuk ke dalam, suasananya tetap biasa. 🙂

Namun, karena sudah memutuskan untuk makan siang di rumah makan ini karena dua alasan, yaitu sejalan dengan arah perjalanan kami dan karena banyak review yang bagus, maka kami tetap mencobanya. Kami pesan makanan dengan sistem “touch screen” ala kampung, maksud kami dengan menempelkan jari kami pada kaca etalase untuk menunjuk lauk dan sayur yang kami inginkan. Seperti warteg pada umumnya lah. wkwkwk…

Makanan di sini ternyata enak. Kami berdua sepakat rasa makanan di sini layak kami beri nilai 8 dari 10. dan harganya pun tidak terlalu mahal. Kalau kamu  melakukan perjalanan Semarang -Surabaya ataupun sebaliknya melalui Jalur Pantura, kami rekomen deh untuk singgah di sini sekedar beristirahat sambil mengisi bahan bakar si pengendara dan penumpang.

OK, perjalanan pun kami lanjutkan dan malam harinya, kami pun sampai di sebuah Hotel di Surabaya untuk menginap. Rencana untuk jalan-jalan mencari makan lagi-lagi harus gagal, karena kami sampai sudah terlalu malam dan lelah. Pasalnya, saat menuju Tuban kami terjebak macet total. setelah hampir satu jam tidak bergerak, kami memutuskan mencari jalan alternatif, jalan memutar, melewati jalanan sempit di tengah2 kebun dan hutan, tanpa tahu arah. dan warga sekitar yang kami tanya hanya memberikan arah “ikuti jalan saja sampai nanti ketemu ringin (alias pohon beringin), baru belok kanan” dan setelah lebih dari setengah jam perjalanan, tetap saja tidak ketemu itu ringin. karena jalan sambil ragu-ragu dan jalanan sempit sehingga setiap kali papasan dengan kendaraan lain, salah satu harus mundur atau mencari tempat yg sedikit lebih luas untuk memberikan jalan bagi kendaraan lainnya. Perjalanan pun harus mundur beberapa jam. Setelah melewati jalan tersebut, barulah kami tahu bahwa ternyata jalur pantura di Tuban tersebut ditutup karena sedang ada festival dan baru dibuka pada saat menjelang maghrib. Bersyukur deh kami memutuskan untuk mencari jalur alternatif. Kalau nggak, bisa nggak sampai di Surabaya.

 

Perjalanan Hari Ketiga

Berangkat dari Surabaya menuju Bali. menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi.

Melewati Paiton, jalannya mulus dan pemandangannya bener-bener bagus. Buat yang nggak tau, Paiton ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang sangat terkenal dengan kompleks pembangkit listrik (PLTU)

Istirahat makan siang di Rumah Makan Malang, Situbondo. Di Rumah Makan ini tersedia berbagai macam menu Chinese Food. seperti Cap cay, Angsio Tahu, Fu Yung Hai, Ikan Kakap Asam Manis, Ayam Koloke, Nasi Rawon, dan tentu saja makanan Khas Malang yaitu Bakso. Selain menyajikan masakan, Rumah Makan yang satu ini juga menjual berbagai macam camilan dan oleh-oleh khas Jawa Timur. seperti Tape Bondowoso, Berbagai Keripik khas Malang, dan lain-lain.

Untuk rasa makanan menurut kami biasa-biasa saja dan harganya cukup mahal. Namun porsinya cukup besar. 🙂

Selesai makan kamipun melanjutkan perjalanan menuju banyuwangi.

Sampai di pelabuhan Ketapang, bersyukur lagi, kapal pas sudah bersandar. tidak pakai ngantri lama2, kami bisa masuk ke dalam kapal Fery untuk menyeberang ke Gilimanuk. Yeayy.. sudah dekat dengan Bali neh. Untuk menyeberang, kami dikenakan biaya sekitar 150rban. satu jam kemudian, kami sudah sampai di Gilimanuk.

Akhirnya kami sampai juga di Bali. Melanjutkan perjalanan menuju Denpasar, tapi karena hari mulai gelap dan karena kami kurang tahu jalan menuju ke sana, dan banyak info katanya kami akan melalui (lagi-lagi) Jalur Tengkorak, maka kami memutuskan bermalam di Negara, Jembrana – Bali. sebelum menginap, kami makan malam di sebuah rumah makan muslim Bidadari. rumah makan ini tempatnya sangat luas. Selama kami makan di sana, ada banyak rombongan wisata dengan bus pariwisata yang singgah. tampaknya mereka sudah memesan makanan untuk paket prasmanan. Tempat parkir yang sangat luas menjadikan rumah makan ini memang cocok untuk tempat makan siang atau malam bagi rombongan tour dalam jumlah besar.

Keesokan harinya kami kembali melanjutkan perjalanan, dan tidak lebih dari 3 jam, kamipun sampai di Denpasar. Horee… akhirnya sampai juga

 

Ada catatan buat kalian yang mau pergi ke Bali melalui jalan darat seperti saya.

Kalau kalian browsing dan menjadi takut karena beberapa jalur seperti Tuban dan atau Jembrana sering disebut menakutkan dengan jalan yang curam dan berkelok-kelok tajam, serta di kiri kanan jalan adalah jurang. Tenang saja. saya tahu rasanya. awalnya saya juga begitu, apalagi dengan sebutan jalur tengkorak dan dikatakan sudah memakan banyak korban jiwa.

Buat saya, jalurnya sebenarnya tidak terlalu meyeramkan, hanya saja beberapa hal ini perlu diingat:

  1. Jalur dua arah di mana masing-masing arah hanya satu lajur. Jalur Pantura memang jalurnya para Bus dan Truk Besar. masalahnya, seringkali Truk kelebihan beban ikut lewat di jalur ini. akhirnya sering mobil-mobil kecil dan bus pariwisata yang kejar target berusaha melewati dengan melawan arus. Ini yang jadi sering meyebabkan kecelakaan, karena ketika belokan, kendaraan dari arah berlawanan tidak terlihat
  2. Beberapa lajur memang ada turunan yang cukup panjang, oleh karena itu, bagi pengemudi terutama mobil matic, harus berhati-hati. Jangan menginjak rem terlalu lama. apabila memang harus menginjak rem, biarkan mobil beristirahat setelah beberapa waktu. karena rem yang terus menerus bekerja, akan menjadi panas dan akhirnya blong. akali dengan menggunakan engine break pada gigi kecil.

Untuk itu, kuncinya adalah Sabar berkendara, patuhi rambu lalu lintas, maka perjalanan akan menjadi aman. Ingat pepatah, biar lambat, asal selamat.

Sebagian besar perjalanan, kalian akan melalui jalanan yang nampak seperti ini:

whatsapp-image-2017-02-18-at-23-47-23

Perjalanan melalui jalur Pantura, tidak usah takut nyasar, karena jalannya mudah. Ikuti saja petunjuk arah pada papan hijau, tapi tentu sebelumnya cari tahu dulu urutan kota-kota yang akan dilalui. Setiap kota, kalian akan menemukan Gapura bertuliskan Selamat Jalan dan Selamat Datang sebagai checkpoint, seperti berikut ini:

img-20161010-wa0006

Sekian dulu cerita perjalanan kami menuju Bali, di mana pertama kalinya Okta mengendarai mobil menempuh 1200km, lebih dari 10 jam dalam sehari. Sebuah pencapaian. 🙂

Ke depan, ikuti terus cerita kami ya !

 

 

 

Advertisements